Selasa, 09 Juni 2009

faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBELAJARAN

HS. Hasibuan

A. Pengertian Pembelajaran

Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 tahun 2003, “pembelajaran sebagai proses interaksi peserta didik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.[1] Menurut Uzer Usman, Proses belajar mengajar adalah “suatu yang mengandung rangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu”.[2] Pembelajaran dapat juga diartikan suatu upaya untuk mengarahkan timbulnya perilaku belajar pebelajar, atau dengan ungkapan lain upaya untuk membelajarkan pebelajar.[3] Lebih lanjut Dimyati dan Mudjono dalam Sagala mendefenisikan pembelajaran adalah “kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional untuk membuat siswa belajar”.[4]

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan proses interaksi individu dengan lingkungan yang disengaja dikelola sehingga memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku serta kondisi-kondisi khusus tertentu. Pembelajaran menjadikan kegiatan guru secara terprogram yang sudah disain dalam bentuk instruksional untuk membuat siswa belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar pada lingkungan belajar.

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar Mengajar

Proses belajar mengajar adalah proses terjadinya interaksi antara guru dan siswa dalam rangka perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku atau kecakapan secara keseluruhan. Situasi belajar, hasil belajar atau tingkah laku yang dihasilkan dalam proses belajar mengajar dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik maupun faktor yang berasal dari luar diri peserta didik. Secara garis besar, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu faktor internal dan eksternal. Untuk lebih jelasnya akan penulis jelaskan sebagai berikut:

a. Faktor internal (faktor dari dalam).

Faktor internal adalah keadaan atau kondisi jasmani dan rohani peserta didik. Faktor ini meliputi dua aspek yakni aspek fisiologis dan psikologis. Faktor internal terkait dengan kesehatan jasmaniah dan psikologi.[5] Di bawah ini akan diuraikan beberapa faktor yang terkait dengan faktor internal:

1. Faktor jasmaniah

a). Faktor Kesehatan

Kesehatan sangat penting bagi seseorang dalam melakukan setiap aktivitas, begitu juga halnya dalam proses belajar. Kesehatan akan mempengaruhi hasil dari proses belajar, bagaimanapun guru memberikan pelajaran, namun keadaan anak tidak sehat maka akan membuang waktu dan sebaiknya anak diberi istirahat sampai keadaannya membaik.

Sebagaimana dikatakan oleh Slameto, “proses belajar mengajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu ia juga akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk dan badannya lemah, kurang darah ataupun ada gangguan-gangguan fungsi alat indra serta tubuhnya”.[6] Dengan demikian bisa dipahami bahwa kesehatan juga merupakan salah satu kunci keberhasilan pembelajaran, baik bagi orang yang belajar maupun orang yang memberikan pembelajaran itu sendiri.

b). Cacat Tubuh

Cacat tubuh juga akan mempengaruhi seseorang dalam menerima pelajaran. Misalnya seseorang terganggu pendengaran atau penglihatannya, ia akan sulit mencerna apa yang disampaikan oleh guru. Mereka harus menggunakan alat yang bisa mengatasi masalah yang mereka hadapi. Bagi mereka yang mengalami cacat tubuh seperti buta, tuli dan lain sebagainya hendaknya ditempatkan di sebuah lembaga yang khusus disediakan bagi mereka penderita cacat, agar tujuan pembelajaran dapat berjalan dengan lancar.

2. Faktor Psikologis

Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran siswa. Namun, diantara faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial antara lain : intelegensi siswa, perhatian, bakat, motivasi, kematangan dan kesiapan. Selanjutnya akan dijelaskan dibawah ini sebagai berikut :

a. Intelegensi Siswa

Intelegensi adalah “kecepatan merespon terhadap perubahan lingkungan dan kemampuan terhadap perubahan di sekitarnya. Kemampuan untuk menyaring berbagai pemecahan masalah terutama daya tampung untuk mengamati atau memahami hubungan-hubungan baru antara berbagai aspek dari suatu masalah”.[7] Tingkat kecerdasan (IQ) siswa sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Artinya semakin tinggi kemampuan intelegensi seseorang maka semakin besar pula peluang untuk meraih sukses.

b. Perhatian

Perhatian merupakan pemusatan energi psikis yang tertuju kepada objek pelajaran atau dapat dikatakan sebagai banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai aktifitas belajar.[8] Agar siswa dapat belajar dengan baik, usahakanlah bahan pelajaran selalu menarik perhatian dengan cara menggunakan pelajaran itu sesuai dengan hobi dan bakatnya.

c. Bakat

Bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melaksanakan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan.[9] Dengan demikian seorang siswa yang berbakat dalam bidang tertentu, akan lebih mudah menyerap informasi, pengetahuan, dan keterampilan dalam bidang tersebut dibanding dengan bidang yang lain.

d. Motivasi

Motivasi adalah “keadaan internal organisme, baik manusia maupun hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu”.[10] Motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai. Bersemangat atau tidaknya peserta didik dalam menerima pelajaran sangat tergantung pada motivasi belajarnya sebagai daya pendorong dan penggerak.

e. Kematangan (maturisy)

Kematangan adalah suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang, di mana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru.[11] Kematangan dapat dikembangkan melalui latihan dan pelajaran. Dengan kematangan yang dimiliki oleh siswa diharapkan adanya kemauan untuk memiliki kecakapan baru demi pertumbuhan di masa yang akan datang.

f. Kesiapan

Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi respon atau reaksi. Kesediaan itu timbul dari dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan, karena kematangan berarti kesiapan untuk melaksanakan kecakapan. Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa belajar dan pada mereka sudah ada kesiapan, maka hasil belajarnya akan lebih baik.

g. Faktor Kelelahan

Kelelahan jasmani dapat terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan tumbuh kecendrungan untuk membaringkan tubuh. Sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu yang hilang.

Agar siswa dapat belajar dengan baik haruslah menghindari agar jangan sampai terjadi kelelahan dalam belajar. Untuk itu perlu diusahakan kondisi yang bebas dari kelelahan. Kelelahan baik secara jasmani maupun rohani dapat dihilangkan melalui cara-cara sebagai berikut :

1) Tidur

2) Istirahat

3) Mengusahakan variasi dalam belajar juga bekerja

4) Menggunakan obat-obatan yang bersifat melancarkan peredaran darah

5) Rekreasi dan ibadah yang teratur

6) Olahraga

7) Mengimbangi makanan dengan makanan yang memenuhi syarat kesehatan

8) Jika kelelahan sangat serius, maka segeralah menghubungi seorang ahli.[12]

2. Faktor Eksternal

a. Keluarga

Keluarga merupakan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kepribadian dan pendidikan anak. Oleh karena itu yang bertanggungjawab sepenuhnya terhadap anak di dalam keluarganya adalah orangtuanya. Seperti yang dijelaskan oleh sabda Nabi SAW,

عن ابى هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مامن امولود الايولد على الفطرة فابواه يهودانه و بنصرانه ويشركانه (رواه البخرى)

Artinya : “Dari Abu Hurairah r.a Rasulullah SAW bersabda ; tidak seorangpun bayi yang lahir melainkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanya yang menyebabkan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani dan musyrik”. (HR. Bukhari).[13]

Dari penjelasan hadits di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa orang tua sangat berperan dalam pembentukan pribadi dan tingkah laku anak, apakah anak akan bertingkah laku baik atau sebaliknya akan sangat bergantung pada pendidikan yang diberikan orang tuanya.

b. Faktor sekolah

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang dilalui oleh anak setelah pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya atau keluarganya. Menurut Suwarno sebagaimana yang dikutip Ramayulis, peranan sekolah antara lain :

1) Memberikan kecerdasan pikiran dan memberi pengetahuan.

2) Memberikan spesialisasi dalam bidang pendidikan dan pengajaran.

3) Memberikan pendidikan dan pengajaran yang lebih efisien kepada masyarakat.

4) Membantu perkembangan individu menjadi makhluk sosial.

5) Menjaga nilai budaya yang hidup dalam masyarakat dengan jalan menyampaikan kebudayaan tadi.

6) Melatih untuk dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab sebelum ke masyarakat.[14]

Demikian pentingnya peranan sekolah dalam mengembangkan kepribadian seseorang. Oleh sebab itu hendaklah tugas itu dipikul dengan penuh tanggung jawab serta sebagai amanah yang diberikan orang tua kepada pihak sekolah.

c. Faktor Masyarakat

Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keberadaan interaksi siswa dalam masyarakat misalnya hubungan dan kegiatan siswa dalam masyarakat, pengaruh mas madia, pengaruh teman bergaul, dan pengaruh bentuk kehidupan dan perilaku masyarakat. Hal-hal ini akan mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa.

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor intern dan ekstern sangat menentukan keberhasilan proses pendidikan, karena dalam diri peserta didik ada unsur-unsur modal yang sangat perlu diperhatikan dalam rangka tercapainya tujuan pendidikan.



[1] Himpunan Redaksi Grafika, UUSPN No. 20 Th 2003, (Jakarta : Sinar Grafika, 2003), Cet Ke-1, h. 9

[2] Moch. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung : Rosdakarya, 1990), h. 7

[3] Abd. Gafar, Muhammad Jamil, Re-formulasi Rancangan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta : Nur Insani, 2003), h. 17

[4] Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung : Alfa Beta, 2005), Cet Kedua, h. 61

[5] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung : Rosda Karya, 2003), h. 132

[6] Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta : Rineka Cipta, 2003), h. 54

[7] A. Bujirno, Kamus Psikologi, (Semarang : Raja Grafindo Persada, 1996), h. 46

[8] Sardiman. AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2003), h. 46

[9] Muhibbin Syah, op. cit., h. 135

[10] Ibid., h. 136

[11] Slameto, op. cit., h. 58

[12] Ibid., h. 60

[13] Imam Abi Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Bardazibah, Shahih Bukhari, (Beirut : Darul Fikri, t.th) Juz II, h.80

[14] Ramayulis, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Jakarta : Kalam Mulia, 2003), h. 141-143

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar