Selasa, 09 Juni 2009

PENDEKATAN GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN

PENDEKATAN GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Hs. Hasibuan Botung

Apakah Pendekatan Itu

Seorang guru yang baru mengajar di salah satu sekolah menengah pertama, dihari pertama datang untuk mengajar. Pada saat dia mengajar banyak sekali tingkah laku anak yang menurut dia tidak menghargainya sebagai seorang guru. Diantara siswa ada yang asyik bercerita dengan temannya tanpa mendengarkan guru, ada siswa yang saling melempar kertas atau menulis sesuatu di dalam kertas kemudian menggilirkannya kepada siswa lainnya, ada siswa yang mengangkat kaki sebelah sambil menggoyang lutut dan bernyayi lagu kesukaannya, ada siswa yang setiap sebentar keluar masuk kelas dengan alasan permisi buang air, dan ada siswa yang selalu bertanya tentang hal-hal yang tidak berkatan dengan materi pembelajaran. Pada situasi tersebut guru merasakan bahwa sangat sulit sekali menghadapi para siswa dengan berbagai macam sikap dan perilakunya. Hampir guru tersebut stress. Namun dia masih berupaya dan berpikir bagaimana caranya menghadapi dan mendekati siswa agar akrab dengan dirinya. Setelah pulang ke rumah dia berpikir tentang cara mendekati siswa untuk besok harinya. Akhirnya dia menemukan cara tersebut dan memperaktekkannya esok harinya di dalam kelas, dan dengan cara tersebut dia berhasil membuat situasi pembelajaran berlangsung dengan nyaman. Itulah yang disebut dengan pendekatan.

Pendekatan guru dalam Pembelajaran

Sadar atau tidak, setiap guru pada saat melaksanakan tugas mengajar akan menerapkan teknik-teknik pengelolaan kelas. Teknik yang biasa digunakan adalah nasehat, teguran, larangan, ancaman, teladan, tata krama, perintah dan hadiah. Teknik-teknik ini digunakan agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara kondusif. Tugas guru dalam proses belajar mengajar ialah “Direktur belajar”.[1] Sebagai direktur, setiap guru harus pandai mengarahkan kegiatan pembelajaran agar dapat mencapai tujuan sebagaimana yang telah ditetapkan dalam sasaran kegiatan proses belajar mengajar.

Kegiatan mengajar dan mendidik bukanlah kegiatan yang gampang dilakukan, kegiatan ini sangat berbeda dengan kegiatan lainnya. Kegiatan ini perlu persiapan yang matang, metode yang tepat dan profesionalisme. Di dalam mengajar guru akan berhadapan dengan peserta didik dengan tipe, perilaku, sikap, dan kemampuan yang berbeda. Ada siswa yang patuh dan ada yang melawan kepada guru, ada siswa yang rajin dan ada siswa yang sangat pemalas, ada siswa yang jujur dan bertanggungjawab dan ada siswa yang pembohong dan berandalan. Semua itu akan dihadapi oleh guru dalam proses pembelajaran. Tentunya perbedaan-perbedaan tipikal siswa tersebut beserta latar belakangnya tidak mungkin di didik oleh seorang guru yang tidak profesional dalam bidangnya. Untuk itulah dalam menghadapi siswa yang memiliki perbedaan tersebut guru harus menggunakan pendekatan-pendekatan tertentu agar pesan-pesan pembelajaran dapat sampai dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Menurut James Cooper, dikutip oleh J.J Hasibuan mengemukakan ada tiga pendekatan yang digunakan dalam mengelola kelas, pendekatan itu adalah pendekatan modifikasi tingkah laku, pendekatan iklim emosional dan pendekatan proses kelompok.[2] Pendekatan pendekatan yang mesti dilakukan oleh guru terhadap murid dalam setiap kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:

1. Pendekatan Modifikasi Tingkah Laku

Sesuai dengan namanya, pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku anak didik. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku anak didik dengan baik, dan mencegah tingkah laku yang tidak baik. Pendidikan berdasrkan perubahan tingkah laku (Behavior Modivication Approach) bertolak dari sudut pandang psikologi Behavioral yang mengemukakan asumsi yaitu: a) semua tingkah laku siswa yang baik dan yang kurang baik merupakan hasil proses belajar, b) di dalam proses belajar terdapat proses psikologi yang fundamental berupa penguatan positif ( positive reinforcement), hukuman, penghapusan (Extincion) dan penguatan negatif (Negative reinforcement).[3]

Dapat dipahami bahwa asumsi pertama guru harus menyusun program kelas dan suasana yang dapat merangsang terwujudnya proses belajar yang memungkinkan siswa mewujudkan tingkah laku yang baik menurut ukuran noram yang berlaku di lingkungan sekitarnya. Sedangkan asumsi kedua mengharuskan seseorang guru melekukan usaha mengulang-ulangi program atau kegiatan yang dinilai baik (stimulus) bagi terbentuknya tingkah laku tertentu, terutama di kalangan siswa.Untuk membina tingkah laku yang dikehendaki guru harus memberi penguatan positif (memberi stimulus positif sebagai ganjaran), atau penguatan negatif (menghilangkan hukuman suatu stimulus yang negatif). Sedangkan untuk mengurangi tingkah laku yang tidak dikehendaki, guru menggunakan hukuman (memberikan stimulus negatif), penghapusan (pembatalan ganjaran sebenarnya diharapkan peserta didik) atau time out (membatalakan kesempatan pada peserta didik untuk memperoleh ganjaran, baik berupa “barang” maupuan berupa kegiatan yang disenaginya).

Penguatan positif (Positif reinforcement), diartikan sebagai respon terhadap suatu tingkah laku untuk mendorong berulang kembali tingkah laku positif. Di sini peran guru adalah melakukan penguatan yang mendorong siswa untuk belajar dengan baik di antaranya adalah “bagus sekali, baik sekali”. Pemberian penguatan (reniforcement) ini dilakukan pada saat siswa berhasil melaksanakan aktivitas atau kegiatan belajar yang dikehendaki, supaya terulang kembali tingkah laku yang dikehendaki tersebut. Menurut Ali Imran, dalam bukunya Pembinaan Guru di Indonesia, penguatan dapat dilakukan dengan beberapa macam, yaitu: Penguatan verbal (menggunakan kata-kata/kalimat tertentu), penguatan dengan mimik atau gerakan badan, penguatan dengan cara mendekati, penguatan dengan sentuhan, penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan dan penguatan dengan simbol atau benda.[4] Penguatan Negatif (negative Reinforcement), yaitu pengurangan tingkah laku yang tidak menyenangkan di dalam kelas harus diberi sanksi atau hukuman yang meninmbulkan perasaan tidak puas dan pada gilirannya tingkah laku tersebut akan dihindari. Misalnya dengan memberikan tugas pada siswa tersebut.

2. Pendekatan Proses Kelompok

Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk menciptakan kelas sebagai suatu sistem sosial, dimana proses kelompok merupakan yang paling utama. Peranan guru adalah mengusahakan dengan perkembangan dan pelaksanaan proses kelompok itu efektif. Proses kelompok adalah usaha mengelompokkan anak didik ke dalam beberapa kelompok dengan berbagai pertimbangan individual sehingga tercipta kelas yang bergairah dalam belajar.[5] Dasar dari Group Proses Approach ini adalah psikologi sosial dan dinamika kelompok yaitu: a) pengalaman belajar di sekolah bagi siswa berlangsung dalam konteks kelompok social, dan b) tugas guru terutama adalah memelihara kelompok belajar agar menjadi kelompok yang efektif dan produktif.[6] Berdasarkan dua asumsi di atas, dapat dipahami bahwa guru dalam penegelolaan kelas selalu mengutamakan kegiatan yang dapat mengikutsertakan seluruh personal di kelas. Dengan kata lain kegiatan kelas harus diarahkan pada kepentingan bersama dan sedikit mungkin pada kegiatan yang bersifat individual. Asumsi kedua harus mampu membentuk dan mengaktifkan siswa, guru harus mampu bekerja sam dalam kelompok yang dilaksanakan secara efektif agar hasilnya lebih baik.

Pendekatan proses kelompok bertolak dari Psiokologi Sosial dan Dinamika Kelompok, dengan dasar bahwa kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien dan berlangsung dalam konteks kelompok, yaitu konteks kelas. [7] Oleh karena itu peranan guru dalam rangka pengelolaan kelas adalah menetapkan kelompok kelas yang mempunyai ikatan yang kuat serta dapat bekerja bersama secara efektif dan efisien. Menurut J.J Hasibuan, dalam bukunya Proses Belajar Mengajar mengungkapkan pendekatan kelompok untuk mempunyai suatu ikatan yang kuat ada beberapa unsur yang diperlukan yaitu”tujuan kelompok, aturan dan pemimpin.”[8] Adapun yang dimaksud masing-masingnya adalah:

a. Tujuan kelompok

Pada tujuan kelompok ini tugas guru adalah mengarahkan para siswa ke tujuan kelas, khususnya tujuan pelajaran. Tujuan yang dapat mendorong siswa untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. Oleh karena itu guru perlu merumuskan tujuan yang jelas dan mengkomunikasikan dengan para siswa.

b. Aturan

Aturan yang mampu mengikat siswa menjadi kelompok adalah aturan yang dibuat guru dan siswa, atau minimal disetujui oleh siswa. Bila ada siswa yang tidak menyukai aturan yang akan digunakan dalam kelompok akan mengurangi daya ikat aturan tersebut.

c. Pemimpin

Setiap guru dengan sendirinya akan menjadi pemimpin kelompok siswa di kelas tempat ia mengajar. Sebagai pemimpin, hal yang utama dilakukan adalah menjelaskan tujuan kelompok. Selain itu dalam rangka menciptakan dan memelihara suasana kerja kelompok yang sehat, di antaranya adalah mendorong dan memeratakaan partisipasi, mengusahakan kompromi, mengurangi ketegangan dan memperjelas partisipasi dan menerapkan sanksi.

3. Pendekatan Pengalaman

Pendekatan pengalaman yaitu, pemberian pengalaman keagamaan pada siswa dalam rangka pembinaan nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini siswa diberikan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman keagamaan baik secara individual maupun kelompok.[9] Meskipun pengalaman sangat diperlukan dan selalu dicari selama hidup manusia, namun tidak semua pengalaman bersifat mendidik dan bermanfaat bagi kehidupan manusia, karena ada pengalaman tak mendidik bahkan buruk bagi kehidupan manusia. Suatu pengalaman dikatakan tidak mendidik, jika guru tidak membawa anak pada tujuan pendidikan yang telah ditetapkan akan tetapi menyeleweng dari tujuan itu, misalnya: mendidik siswa agar melakukan tindakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Karena itu pengalaman edukatif berpusat pada satu tujuan yang berarti bagi anak, kontiniu dengan kehidupan anak, interaktif dengan lingkungan dan menambah pengetahuannya. Pengalaman bagi anak itu merupakan suatu pendekatan pembelajaran. Maka jadilah “Pendekatan pengalaman” sebagai frase baku dan diakui pemakainya dalam pendidikan. Untuk pendidikan agama Islam, pendekatan pengalaman yaitu suatu pendekatan yang memberikan pengalaman nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini siswa diberikan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman keagamaan,baik secara individu maupun kelompok.

4. Pendekatan Pembiasaan

Pembiasaan adalah alat pendidik, bagi anak yang masih kecil, pembiasaan ini sangat penting karena pembiasaan estetis, perasaan etis, perasaan sosial dan perasaan harga diri dapat dikembangkan sejak dini. Merasa adalah aktualisasi kerja dari hati sebagai materi dalam struktur tubuh manusia, dan merasa sebagai aktifitas kejiwaan ini adalah suatu pernyataan jiwa yang bersifat subyektif. Pengetahuan tentang merasa hanya akan dapat dipahami oleh anak jika dia terbiasa dengan apa yang bias dia lakukan.

a. Pendekatan Rasional

Manusia adalah makhluk yang sempurna diciptakan, manusia bebeda dengan makhluk yang lainnya yang diciptakan oleh Allah. Perbedaannya terletak pada akal. Manusia mempunyai akal sedangkan makhluk lainnya tidak. Jadi, hanya manusia yang dapat berfikir, sedangkan makhluk lainnya sama sekali tidak.

Di sekolah anak dididik dengan berbagai ilmu pengetahuan. Cara berfikir anak dibimbing kearah yang lebih baik sesuai dengan tingkat usia anak, pertimbangan berfikir anak dimulai dari yang abstrak sampai ke yang kongkrit. Pembuktian tentang sesuatu yang berhubungan dengan masalah keagamaan harus sesuai dengan tingkat berfikir anak. Kesalahan pembuktian akan berakibat fatal bagi perkembangan jiwa anak. Usaha yang terpenting bagi guru adalah bagaimana logika berfikir maupun daya nalarnya dapat berkembangan dengan baik sehingga mampu memahami dan menerima kebenaran ajaran agama, termasuk mencoba memahami hikmah-hikmah ajaran agama.

b. Pendekatan Fungsional

Ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh anak di sekolah bukan hanya sekedar pengisi otak, tetapi diharapkan berguna bagi kehidupan anak, baik sebagai individual maupun sebagai makhluk sosial. Anak dapat memanfaatkan ilmunya untuk kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangannya. Bahkan yang lebih penting adalah ilmu pengetahuan agama yang dipelajari oleh anak dapat berfungsi membentuk kepribadiannya, dan dia mendayagunakan nilai-nilai dari suatu ilmu pengetahuan yang diperolehnya untuk kepentingan hidupnya. Pelajaran agama yang diberikan di kelas bukan hanya untuk memberantas kebodohan mengisi kekosongan intelektual saja, tetapi untuk di implementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang demikian itu yang hendak dicapai oleh tujuan pendidikan agama di sekolah.[10]

5. Pendekatan Iklim Sosial Emosional

Banyak proses pembelajaran yang gagal atau tidak kondusif di dalam kelas karena iklim social emosional antara guru dengan siswa tidak terjalin dengan baik. Banyak siswa yang merasa kurang senang dengan gurunya dan memiliki persepsi negative terhadap guru tersebut. Demikian juga ada diantara guru yang memiliki persepsi negative terhadap siswanya. Persoalan ini sering terjadi karena guru kurang pandai mempererat hubungan emosional dengan siswa. Untuk itulah dalam pembelajaran guru perlu melakukan pendekatan pengelolaan kelas berdasarkan pada suasana perasaan dan suasana sosial (Sosio Emosional Climate Approach) di dalam kelas. Menurut pendekatan ini pengelolaan kelas merupakan suatu proses menciptakan iklim atau suasana emosional dan hubungan sosial yang positif dalam kelas. Suasana emosional dan hubungan sosial yang baik antara guru dan siswa atau siswa dengan siswa. Di sini guru adalah kunci terhadap pembentukan hubungan pribadi itu, perananya adalah menciptakan hubungan pribadi yang sehat, untuk itu ada dua aturan yang dipergunakan dalam pengelolaan kelas: “iklim sosial emosional yang baik adalah hubungan interpersonal yang harmonis antara guru dengan guru, guru dengan siswa dan siswa dengan siswa supaya berlangsungnya proses belajar mengajar yang efektif”.[11] Iklim sosial emosional menekankan pentingnya proses pembelajaran yang demokratis di dalam kelas. Siswa diajar bertanggung jawab secara sadar atas setiap tindakan dan perbuatannya, diberikan kesempatan untuk mengambil keputusan secara bijaksana, adil dan konsisten. Menciptakan suasana belajar yang menggairahkan perlu memperhatikan pengaturan ruang belajar atau penataan ruangan kelas.[12]

Dari paparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa suasana kelas yang otokratis atau laizes faire hanya menyebabkan peserta didik mengalami frustasi, menarik diri atau bersifat menentang dan kesemuanya itu dapat menghambat lancarnya proses belajar mengajar. Untuk menciptakan hubungan baik dengan siswa, guru perlu menerapkan sikap-sikap tertentu yang efektif, di antaranya adalah sikap terbuka, sikap menerima dan menghargai siswa, sikap dapat membaca situasi apabila terjadi pelanggaran dan sikap demokratis.

6. Pendekatan Spritual

Setiap orang akan berbeda tingkat keyakinan dan kepercayaannya. Selain itu berbeda pula sikap dan perilakunya dalam belajar. Untuk menenangkan kembali sebuah proses belajar yang tidak kondusif karena berbagai hal, seorang guru dapat melakukan pendekatan spiritual terhadap siswa. Pendekatan ini dilakukan dengan cara merefleksikan atau perenungan kembali akan tugas-tugas manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di Bumi. Dan memberikan perenungan bahwa setiap manusia (baca: siswa) wajib menuntut ilmu. Tentunya pendekatan itu selalu berbasis kepada ayat-ayat atau firman Allah yang dijadikan sebagai rujukan untuk memperbaiki sikap dan perilaku siswa. Melalui pendekatan spiritual ini, guru juga dapat memotivasi siswa untuk semakin rajin dan giat dalam belajar. Karena sesunguhnya agama mensyariatkan agar setiap muslim belajar bersungguh-sunggguh.



[1] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Jakarta:PT. Remaja Rosdakarya, 2000), h. 250

[2] J.J Hasibuan, dkk, Proses Belajar Mengajar , Op. Cit, h. 166

[3] Syaiful Djamarah dan Aswan Zain, Op. cit, h. 202

[4] Ali Imran, Pembinaan Guru di Indonesia, (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1995), cet-1, h. 134

[5] Syaiful Bahri Djamarah, Aswin Zain, Op. cit, h. 7

[6] Ibid, h. 205

[7] Ibid, h. 143

[8] J.J Hasibuan, Op. cit, h. 177

[9] Ramayulis, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Padang: IAIN Press, 2003), h. 86

[10] Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), h. 70-77

[11] Ahmad Rohani HM, Abu Ahmadi, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), h. 141

[12] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, ()Jakarta: Rineka Cipta, 2000), h. 174

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar