Selasa, 09 Juni 2009



PENDIDIKAN NASEHAT MENURUT ISLAM

HS. Hasibuan Botung

A. Pengertian Nasihat

Secara akar kata “nasihat” menurut Ibnu Manjur berasal dari Bahasa Arab, yaitu kata kerja dari "Nashaha" yang berarti "khalasha", yaitu murni serta bersih dari segala kotoran, juga bisa berarti "Khaatha", yaitu menjahit.[1] Fariq Bin Gasim Anuz mengutip pendapat Imam Nawawi mengartikan kata "nashaha" diambil dari "nashahtu al-'asla", apabila saya menyaring madu agar terpisah dari lilinnya sehingga menjadi murni dan bersih, mereka mengumpamakan pemilihan kata-kata agar tidak berbuat kesalahan dengan penyaringan madu agar tidak bercampur dengan lilinnya.[2] Indrawan WS mengartikan nasihat dengan kata “nasihat” sebagai ajaran atau pelajaran baik, anjuran, petunjuk.[3] Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia Karangan Balai Pustaka dinyatakan nasihat adalah: ajaran atau pelajaran baik; anjuran (petunjuk, peringatan, teguran) yang baik.[4] Menurut Asnelly Ilyas nasihat adalah peringatan akan kebaikan dan kebenaran dengan cara menyentuh kalbu dan menggugah untuk mengamalkan.[5] Menurut Hadari Nawawi nasihat adalah mendidik dengan menggunakan bahasa, lisan maupun tulisan dalam mewujudkan antara pendidik dan anak didik.[6]

Kemudian Abuddin Nata berpendapat nasihat adalah menggunakan kalimat kalimat yang menyentuh hati untuk mengarahkan manusia kepada ide yang di kehendakinya.[7] Ahmad Tafsir memaknai nasihat adalah yang memberikan nasihat hendaknya berulang kali mengingatkan agar nasihat itu meninggalkan kesan sehingga orang yang dinasihati tergerak mengikutinya.[8] Lebih lanjut Fariq Bin Gasim Anuz menukil ucapan Imam Khaththabi rahimahullah, “Nasihat” itu adalah suatu kata untuk menerangkan satu pengertian, yaitu keinginan kebaikan bagi yang dinasihati."[9] Sedangkan Abu Muhammad Harits mengungkapkan pendapat Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal. 99 dengan menukil perkataan Al-Imam Al-Khaththabi rahimahullah: “Nasihat ialah kalimat yang diucapkan kepada seseorang karena menginginkan kebaikan baginya.”[10]

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa nasihat adalah sebuah usaha seseorang untuk memberikan arahan, masukan, petunjuk, dan larangan kepada orang lain baik secara lisan maupun tidak dengan maksud agar orang tersebut menjadi lebih baik.

2. Cara Memberi Nasihat

Dalam perjalanan hidup, tidak akan mungkin selamanya orang melakukan tindakan yang benar, adil, dan menyenangkan serta membahagiakan semua orang tanpa kecuali. Akan tetapi ada kalanya orang melakukan tindakan yang membuat orang lain merasa sakit hati, merasa direndahkan, dan sebagainya. Pertanyaannya kemudian adalah apakah yang dilakukan jika menemukan orang lain melakukan sebuah kesalahan. Tentunya perlu saling menasihatinya sebagai seorang bersaudara. Akan tetapi bagaimana caranya memberikan menasihat kepada orang lain agar mereka tidak tersinggung dan bersedia mendengarkan nasihat yang disampaikan. Untuk itu sangat diperlukan kemampuan dan cara untuk memberi nasihat. Menasihati orang lain menuju kebenaran harus digalakkan, bagi yang dinasihati seharusnya ia berterima kasih kepada orang yang telah menunjukkan kekurangan dan kesalahannya, hanya saja hal ini jarang terjadi. Pada umumnya manusia tidak suka dipersalahkan, apalagi kalau teguran itu disampaikan kepadanya dengan cara yang tidak baik. Maka seorang pemberi nasihat haruslah mengetahui metode yang baik agar nasihatnya dapat diterima oleh orang lain. Di antara metode nasihat yang baik adalah sebagai berikut:

a. Nasihat dengan keras (disiplin). Pada dasarnya nasihat harus dilakukan dengan kelembutan. Namun pada kondisi tertentu memberi nasihat perlu digunakan dengan cara yang agak keras yang dimaksudkan untuk meningkatkan kedisiplinan anak. Itupun dapat dilakukan kalau pendekatan kelembutan tidak berhasil. Di dalam ajaran Islam ada cara memberikan nasihat yang sifatnya keras untuk mendisiplin seorang anak. Pukul anakmu jika tidak mau solat setelah 10 tahun”.

b. Nasihat harus diberikan secara kontiniu dan berkesinambungan jangan sampai putus, tidak ada prosedur lain setelah nasihat.

c. Nasihat tidak dapat dibatasi dengan waktu. Hanya orang-orang yang sempit pandangan saja yang membatasi nasihat dengan jangka waktu tertentu. Ini jelas musibah. Sebuah perkara yang sudah dimaklumi oleh para dokter bahwa pengobatan tentunya membutuhkan waktu yang tidak dapat ditentukan secara pasti batas waktunya. Khususnya bagi penderita penyakit kronis atau telah menderita penyakit selama bertahun-tahun. Biasanya ia tidak dapat langsung sembuh dalam waktu sehari dua hari atau sebulan dua bulan.

d. Diantara cara memberikan nasihat yang diajarkan oleh Rasulullah Saw ShallAllah Swtu ’alaihi wa Sallam adalah dengan perkataan-perkataan yang baik dan dengan merendahkan suara

e. Kemudian, jangan sekali-kali mencela orang yang dinasihati atas apa yang telah diperbuatnya, walaupun dengan niat untuk menasihati.

f. Sederhana dalam memberi nasihat dengan bahasa yang mudah dipahami anak sesuai dengan tingkat perkembangannya

g. Memberi nasihat melalui perumpamaan terhadap apa yang dapat mereka saksikan dengan mata kepala dan berada dalam jangkauan mereka dan juga lewat cerita

h. Menasihati dengan memperagakan tangan agar lebih jelas dan mudah dimengerti

i. Memilih kesempatan yang tepat dalam memberikan nasihat, seperti saat berkumpul bersama keluarga

j. Menciptakan suasana yang akrab dengan menampakkan kelembutan dan kasih sayang dengan memberikan nasihat, misalnya panggilan yang diawali dengan perkataaan “wahai anakku” yang merupakan gaya bahasa yang indah dalam Al-Qur’an. Dan juga dapat menggunakan panggilan kesayangan

k. Mengiringi nasihat dengan perbuatan atau teladan dari pendidikan supaya nasihat lebih membekas dan berpengaruh

l. Memberikan nasihat dengan canda untuk menghilangkan kejemukan dan menimbulkan daya tarik

m. Langsung memberikan teguran atau menasihati anak yang melakukan kesalahan. Tetapi hal ini tidak boleh dilakukan pada saat anak berada bersama dengan teman-temannya, karena anak akan merasa malu, minder dan rasa kurang percaya diri

n. Selalu menyertakan nama Allah Swt dalam memberikan nasihat agar anak terlatih mengamalkan sesuatu karena Allah Swt

o. Setelah selesai memberikan teguran dan menasihati anak langsung peluk atau iringi dengan ciuman yang dilakukan dengan penuh keikhlasan. Secara psikologis, hal ini sangat berpengaruh terhadap jiwanya yang menandakan orang tua tetap menyayanginya.

3. Tujuan Nasihat

Ada beberapa tujuan dalam memberikan nasehat, diantaranya adalah: a) membangkitkan perasaan ketuhanan yang telah dikembangkan dalam jiwa setiap anak didik melalui dialog, pengamalan, ibadah, praktek dan metode lainnya, b) membangkitkan keteguhan untuk senantiasa berpegang kepada pemikiran ketuhanan yang sehat dengan mengamalkan rukun iman dan mengesahkan Allah Swt melalui pengamalan syari’ah, ibadah, kekuatan dan kekuasaan Allah Swt, c) membangkitkan keteguhan untuk berpegang teguh kepada jamaah yang beriman, d) mensucikan atau membersihkan diri yang merupakan jalan satu tujuan nasihat. Dengan demikian dapat dipahami bahwa ada beberapa ranah dalam memberikan nasehat yaitu nasehat dalam bidang aqidah, nasehat dalam bidang Ibadah, dan nasehat dalam bidang akhlak. Hakekat dari ketiga nasehat ini adalah agar setiap orang tetap pada jalan, aturan dan ajaran agama yang telah ditetapkan oleh Islam.



[1]Ibnu Manjur, Lisanul Arab, (Libanon, Dar Ihyaut Turats al-Arabi dan Muasssah at tarikh al Arabi, 1996), h, th

[2]Fariq Bin Gasim Anuz, Fikih Nasehat, (Jakarta: Darus Sunnah, 2005), h. 25.

[3]Indrawan WS, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Jombang: Lintas Media, Tt), h. 370.

[4]Team Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), h. 609.

[5]Asnelly Ilyas, Mendambahkan Anak Shaleh, (Bandung: Mizan, 1995), h.35.

[6]Hadari Nawawi, Pendidikan Dalam Islam,(Surabaya: at-Thes,1993), h.221.

[7]Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu,1997), h.98

[8]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1991), h. 146

[9]Fariq Bin Gasim Anuz, op,cit., h

[10]Abu Muhammad Harits Ketika Nasehat Diangap Celaan, Copyright © 2005 Asysyariah.com. All rights reserved, Developed by Oase Media

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar